PERSEPSI GURU DAN SISWA SEKOLAH DASAR TENTANG PEMBELAJARAN TATAP MUKA (PTM) PADA MASA NEW NORMAL

  • 12:58 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Oleh : Yessy Kurniati, SKM, M.Kes

Dosen Peminatan PKIP


Pandemi Covid-19 telah merubah banyak aspek kehidupan di masyarakat, salah satunya adalah pendidikan. Selama berlangsunganya covid 19, pembelajaran dilakukan secara online<!--[if supportFields]> CITATION Nin20 \l 1033 .Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada satu lingkungan belajar. Konteks interaksi dalam proses pembelajaran adalah interaksi sosial, yaitu hubungan antara individu dengan kelompok. Dalam hal ini guru selaku individu berinteraksi dengan sekelompok peserta didik <!--[if supportFields]> CITATION Cha08 \l 1033 . Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Dengan kata lain, pembelajaran adalah usaha untuk memperoleh perubahan perilaku dalam diri individu yang diperoleh dari proses interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan esensi pembelajaran, maka dalam tujuan pembelajaran perlu dirancang interaksi yang baik antara pendidik, peserta didik dan sumber belajar. Sehingga akan tercipta proses pembelajaran yang efektif dan efisien <!--[if supportFields]> CITATION Fit22 \l 1033

Selama 2 tahun pandemic Covid-19, pembelajaran berlangsung secara daring. Namun perlahan dengan mulai terkendalinya pandemi, maka proses pembelajaran secara bertahap kembali normal. Namun dengan kondisi menjaga protocol kesehatan. PTM sendiri adalah kebijakan yang dilaksanakan pada satuan pendidikan yang tertuang dalam SKB Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan pembelajaran di masa Pandemi Covid 19 yang akan dilaksanakan melalui 2 fase, yaitu masa transisi dan masa kebiasaan baru. PTM pada masa transisi akan berlangsung selama dua bulan sejak dimulainya PTM di satuan pendidikan. Setelah masa transisi selesai maka PTM memasuki masa kebiasaan baru (new normal)

Pada prosesnya, pelaksanaan PTM tidaklah mudah. Akan bermunculan berbagai macam masalah, seperti tidak tersedianya sarana dan prasarana yang mendukung layanan kesehatan, keselamatan warga satuan pendidikan, pengaturan fasilitas tempat belajar, pengaturan jumlah peserta didik dan durasi waktu setiap pelajaran per hari. Satuan pendidikan dapat menyiapkan beberapa alternative PTM yang akhirnya akan terpilih sebagai bentuk PTM yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan tetap menerapkan protocol kesehatan <!--[if supportFields]> CITATION Fit22 \l 1033

Berdasarkan Peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan bahwa perencanaan pembelajaran tatap muka perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya yaitu melakukan vaksinasi kepada seluruh pendidik dan tenaga kependidikan, meningkatkan imun peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan serta mempersiapkan sarana dan prasarana yang sesuai protocol kesehatan. Namun demikian, sebelum diterapkannya pelaksanaan PTM, Kemendikbud telah mensosialisasikan dan menerbitkan buku panduan pembelajaran masa pandemi<!--[if supportFields]> CITATION Kem20 \l 1033

Dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka ini juga perlu menerapkan prinsip kehati-hatian karena berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan warga di sekolah, sehingga penggunaan protocol kesehatan wajib diterapkan secara ketat sesuai dengan aturan PTM. PTM harus dilaksanakan dengan pembatasan jumlah peserta didik dalam kelas, sehingga perlu mengatur jumlah dengan system rotasi dan kapasitas 50% dari jumlah siswa pada normalnya, harus ada persetujuan orang tua siswa, penerapan protokol kesehatan yang ketat, tenaga kependidikan telah melakukan vaksinasi hingga sarana dan prsarana pendukung pelaksanaan protokol kesehatan tersedia dan memadai

Giovanella menyatakan bahwa guru memiliki persepsi positif tentang pembelajaran tatap muka dan diperlukan persiapan dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, persepsi guru pada pembelajaran tatap muka sangat penting untuk memfasilitasi lingkungan dalam pembelajaran tatap muka yang efektif serta untuk memahami manfaat dan hambatan implementasinya<!--[if supportFields]>CITATION Gio \l 1033 . Hasil penelitian Nurhayati (2022), menunjukkan bahwa sebagian besar murid menyatakan setuju dengan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas <!--[if supportFields]> CITATION Nur22 \l 1033 . Di Kota Makassar sendiri, pembelajaran tatap muka telah mulai dilaksanakan secara penuh di sekolah-sekolah. Disisi lain, kondisi pandemi belum betul-betul aman. Sehingga pelaksanaan pembelajaran tatap muka harus dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan.

 Penelitian yang dilakukan di SDK Ende 8 dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif terhadap 3 orang guru pada kelas 1 SD menemukan bahwa pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas dapat dilaksanakan dengan baik dan sistematis serta perencanaan yang matang dengan mematuhi protocol kesehatan. Guru melaksanakan proses belajar mengajar di kelas sesuai dengan RPP yang disusun serta disesuaikan dengan kondisi new normal, pelaksanaan dengan cara memadatkan materi, menyampaikan poin-poin penting serta mempertegas pada penyelesaian soal, evaluasi dilakukan dengan ulangan harian, penilaian tengah semester dan penilaian akhir semester (Suryani L, Tuteh KJ, Nduru P, Pendy A, 2022)

Penelitian yang dilakukan di MTSn Daarutholibin menggunakan desain mixed method terhadap 35 orang guru, siswa dan orang tua, menemukan bahwa 85,7% orang tua menyatakan sangat setuju, 84% guru menyatakan  sangat setuju dan 74,3% siswa menyatakan setuju dengan pembelajaran tatap muka terbatas di sekolah <!--[if supportFields]> CITATION Nur22 \l 1033 .

Penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 26 Surabaya yang dilakukan dengan metode kualitatif dengan jumlah responden 20 orang guru mata pelajaran yang aktif mengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru merasa lebih mudah menyampaikan materi pembelajaran, siswa sangat antusias dan aktif dalam pembelajaran serta siswa merasa nyaman dengan pembelajaran tatap muka<!--[if supportFields]> CITATION Pus21 \l 1033

Penelitian yang dilakukan di SMA  Kristeni Rantepao menunjukkan bahwa tatap muka terbatas terasa tidak efektif karena dari segi waktu yang hanya 60 menit per bidang studi. Dengan waktu yang sangat terbatas tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal oleh guru dalam menjelaskan materi-materi ajar dan berinteraksi dengan siswa di dalam kelas<!--[if supportFields]> CITATION Pal21 \l 1033

Penelitian tentang Dinamika Pembelajaran Tatap muka terbatas di kalangan mahasiswa yang dilakukan oleh Fifit Fitriansya di Universitas Bina Sarana Informatika, Jakarta, pada tahun 2021, menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan beberapa metode yaitu studi pustaka, observasi serta wawancara kepada dosen dan mahasiswa. Penelitian tersebut menemukan bahwa terdapat perbedaan pilihan  dimana pada kelas pertama sebanyak 80% memilih pembelajaran tatap muka, sementara pada kelas kedua sebanyak 71% memilih non tatap muka. Ini menunjukkan bahwa pemberlakukan pembelajaran tatap muka masih menjadi polemic di kalangan mahasiswa