Biji Labu Kuning Sebagai Pangan Fungsional dalam Menanggulangi Kecacingan

  • 08:05 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Pendahuluan

Kecacingan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat khususnya pada negara berpenghasilan rendah dan menengah yang beriklim tropis dan subtropis seperti Indonesia. Diperkirakan satu miliar anak usia sekolah tinggal di daerah endemis Soil-transmitted helminth (STH) dengan 69% dari anak-anak tersebut tinggal di Asia dan mereka menaggung beban yang berkaitan dengan morbiditas dan mortalitas (Pulla et.all., 2014 ; Kunwar, er.all., 2016).  WHO menyatakan bahwa anak-anak usia prasekolah, yaitu usia 1 sampai 4 tahun merupakan salah satu kelompok populasi dengan risiko morbiditas infeksi STH paling tinggi, meskipun infeksi STH dapat terjadi pada semua kelompok usia (WHO, 2012; Shumbej T, et.all., 2015). Di Indonesia, prevalensi infeksi STH regional berkisar antara 2,5% hingga 62,0% (MHRI, 2017).

Kecacingan yang dikenal dengan istilah infeksi cacing yaitu  kondisi medis yang terjadi ketika tubuh manusia atau hewan terinfeksi oleh cacing parasit. Infeksi kecacingan disebabkan oleh mikroba dimana kuman masuk ke dalam tubuh dan berkembang biak sehingga menimbulkan penyakit (Ramadhian et al., 2018). Kecacingan dapat meyebabkan sejumlah dampak negative terhadap kesehatan terutama pada anak-anak.  Infeksi parasit usus pada anak-anak dapat menyebabkan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan, seperti malnutrisi, anemia, pertumbuhan terhambat, dan perkembangan kognitif yang terganggu (Oninla et al., 2010; Fürst et al., 2012; Sayasone et al., 2015). Selain itu, infeksi ini juga dapat berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan beban kemiskinan, gangguan perkembangan mental dan pendidikan pada anak-anak, serta merusak produktivitas ekonomi (Oninla et al., 2010; Fürst et al., 2012; Sayasone et al., 2015; Hotez et al., 2014). 

Infeksi cacing lebih sering terjadi di negara-negara berkembang; hal ini menimbulkan ancaman besar terhadap kesehatan masyarakat dan berkontribusi terhadap prevalensi anemia, malnutrisi, eosinofilia, pneumonia, diare atau disentri  dan mengurangi penyerapan zat gizi mikro (Oladayo Amed Idris, et.al., 2019). Gejala umum penyakit kecacingan adalah; sakit perut, diare, gizi buruk, kelelahan, pembesaran hati dan limpa, radang saluran cerna pneumonitis , kebutaan , eosinofilia , obstruksi usus , anemia, muntah, sembelit, limfedema , penurunan berat badan , gatal pada kulit dan atau anus ( Manke et al., 2015).

Kecacingan sangat terkait erat dengan kondisi lingkungan dan budaya perilaku sehat masyarakat khususnya anak-anak, karena pada usia tersebut intensitas interaksi dengan lingkungan (tanah) semakin besar, sehingga meningkatkan pula risiko terinfeksi. Berbagai bukti dari penelitian terdahulu yang menunjukkan adanya hubungan antara sanitasi yang buruk, praktik kebersihan yang rendah, dan peningkatan risiko infeksi cacing usus pada anak-anak (Campbell SJ, et al.2014 ). Telah ditemukan bahwa sanitasi yang tidak memadai dapat menyebabkan kontaminasi sumber air dengan telur cacing usus (Campbell SJ, et al.2014 ). Selain itu, kekurangan gizi juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuat anak-anak lebih rentan terhadap infeksi kecacingan (Yap, P., Utzinger, J., Hattendorf, J. et al.2014). Penelitian Stefanie K. Menzies , dkk (2014 menemukan bahwa infeksi cacing usus pada ibu selama kehamilan merupakan faktor risiko yang penting untuk infeksi cacing usus pada anak-anak kecil (Menzies et al. 2014). Temuan ini menunjukkan bahwa deworming pada wanita usia subur sebelum kehamilan dapat menjadi intervensi yang efektif untuk mencegah morbiditas yang terkait dengan infeksi cacing usus pada masa kanak-kanak awal (Menzies et al. 2014).

Penelitian yang dilakukan oleh Jintana Yanola, dkk., (2018)  menunjukkan bahwa prevalensi infeksi parasit usus pada anak-anak suku Karen di Distrik Omkoi, Provinsi Chiang Mai, Thailand, cukup tinggi dan berdampak pada status hematologi dan gizi mereka. Anak-anak yang terinfeksi parasit usus memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia dan defisiensi zat besi. Selain itu, terdapat hubungan antara infeksi parasit usus dengan penurunan berat badan dan tinggi badan pada anak-anak tersebut. Infeksi parasit usus, terutama cacing tambang, merupakan jenis parasit yang paling umum ditemukan pada anak-anak suku Karen. Anak-anak yang terinfeksi parasit usus memiliki tingkat hemoglobin yang lebih rendah, lebih tinggi dalam kategori anemia, dan status gizi yang lebih buruk dibandingkan dengan anak-anak yang tidak terinfeksi (Jintana Yanola, et.all., 2018).  Penelitian lain menunjukkan penurunan signifikan kadar serum seng dan vitamin A serta peningkatan signifikan kadar serum transferrin dan selenium pada anak-anak yang terinfeksi cacing dibandingkan dengan anak-anak yang tidak terinfeksi cacing (Akinwande, Morenikeji, and Arinola 2017)

Penelitian yang dilakukan oleh Ayse Ercumen, dkk (2019) di daerah pedesaan Bangladesh menunjukkan bahwa intervensi yang melibatkan penyediaan air bersih, sanitasi yang memadai, praktik kebersihan yang baik, dan suplemen nutrisi dapat mengurangi risiko infeksi cacing usus pada anak-anak di daerah pedesaan . Prevalensi infeksi cacing usus pada kelompok intervensi lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol (Ayse Ercumen, et.all., 2019). Selain itu, intensitas infeksi dan prevalensi infeksi sedang/berat juga menurun secara signifikan setelah intervensi dilakukan (Ayse Ercumen, et.all., 2019). Penelitian ini memberikan bukti bahwa perbaikan sanitasi, kebersihan, dan nutrisi dapat menjadi strategi efektif dalam mengurangi beban infeksi cacing usus pada anak-anak di daerah pedesaan. Peneleitian yang dilakukan di Jakarta  menujukkan bahwa kejadian infeksi STH di daerah perkotaan tertinggal di Pluit dan Penjaringan (Jakarta Utara) adalah 10,76%, dengan mayoritas infeksi cacing tambang (Sem S. Surja, et.all., 2021). Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Zheng et al. (2009) di Cina dan Kattula et al. (2014) di India yang melaporkan bahwa infeksi cacing tambang ditemukan dengan prevalensi lebih tinggi di daerah pedesaan. Faktor lingkungan nampaknya memegang peranan penting dalam penularan STH. 

Kemajuan dalam mencapai pengendalian global terhadap cacing sangat bergantung pada solusi berkelanjutan yang tidak sekedar mengobati gejala namun juga mengurangi paparan. Oleh karena itu, kemoterapi dengan WASH dan intervensi lain seperti promosi kesehatan perlu ditingkatkan untuk mencapai dampak kumulatif dalam mencegah infeksi ulang dan memberikan manfaat terbesar dan berkelanjutan dalam pengendalian dan pemberantasan cacing (Suzy J. Campbell, et.al., 2014). Eshetu Gadisa  dan Kefialew Jote (2019) merekomendasikan bahwa perbaikan sanitasi, pengendalian ektoparasit seperti tungiasis, penyediaan air bersih dan keberhasilan pemberantasan cacing secara massal merupakan hal yang penting dalam pengendalian kecacingan.


Penanggulangan Kecacingan

Salah satu upaya penanggulangan kecacingan sebagaimana yang direkomendasikan oleh WHO adalah menyelenggarakan Program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Kecacingan pada anak sekolah. Kebijakan pemberantasan cacing di Indonesia saat ini mengikuti standar WHO, yang diberikan kepada anak-anak setiap tahun atau dua kali setahun. Obat cacing yang diberikan kepada sasaran POPM adalah Albendazole 400 mg yang termasuk dalam kategori anthelmintik.. Sasaran POPM cacingan adalah anak usia 1 tahun - 12 tahun dengan ketentuan anak usia 1 tahun - 2 tahun: 200 mg dosis tunggal, sedangkan anak usia > 2 tahun: 400 mg dosis tunggal. Program ini diharapkan mampu menurunkan prevalensi kecacingan di suatu wilayah. Namun penggunaan obat massal secara terus menerus dan tidak sesuai prosedur  bisa merdampak terjadinya resistensi obat yang pada akhirnya program ini tidak efektif. Sementara cakupan pengobatan cacing yang rendah dan selektif untuk mencegah geohelminthes menggunakan antihelmintik sintetis yang tersedia di negara-negara berkembang, studi melaporkan adanya resistensi yang semakin meningkat terhadap obat-obatan ini pada cacing dalam manusia maupun hewan (Eshetu Gadisa & Kefiyalew Jote, 2019). Dilaporkan pula bahwa cacing mengalami adaptasi dan perubahan evolusioner akibat perubahan iklim atau resistensi terhadap obat anthelmintik (Hotez et al. , 2016 ). Pada tinjauan Oladayo Amed Idris, dkk (2019) dikemukakan adanya resistensi cacing terhadap obat merupakan tantangan yang memerlukan pengembangan obat baru yang menggunakan cara kerja yang berbeda dibandingkan obat anthelmintik sebelumnya.


Efek Antelmintik Dari Biji Labu Kuning

Pada tinjauan reviuw oleh Joachim M. Dottoa,c, & , James S. Chacha b (2020) dipaparkan bahwa  untuk mengatasi masalah resistensi obat kecacingan, upaya signifikan dilakukan untuk mengeksplorasi senyawa-senyawa yang terjadi secara alami yang diproduksi oleh tanaman dalam jalur metabolik cacing. Dalam reviuw ini salah satu topic yang dibahas adalah efek antelmintik dari biji labu kuning. Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa biji labu memiliki sifat antihelmintik terhadap berbagai nematoda usus. Ekstrak biji labu menunjukkan aktivitas mematikan pada Heligmosoides bakeri pada tikus yang terinfeksi sebesar 80% (M. Grzybek, W, et.all., 2016); Ascaridia galli pada ayam sebesar lebih dari 65% (J.A. Acorda, I.Y.E.C., 2019). Ekstrak biji labu menginduksi penekanan signifikan pada jumlah cacing dewasa H. nana dan produksi telurnya (A.O. Alhawiti, F.H. Toulah, M.H. Wakid., 2019). Li et al. (2012) melaporkan bahwa ekstrak biji labu yang dikombinasikan atau tidak dikombinasikan dengan buah pinang telah menunjukkan kemampuan untuk membasmi Taeniasaginata dan Taeniasolium. Penelitian yang sama menyatakan bahwa efektivitas biji labu sendiri relatif lebih baik daripada buah pinang sendiri, meskipun ekstrak gabungan lebih efektif. Dalam studi perbandingan lainnya, ekstrak biji labu dan papaya dievaluasi untuk aktivitas antihelmintik pada Pheretima posthuma - cacing tanah yang menyerupai cacing usus. Kedua ekstrak menunjukkan efek antihelmintik, tetapi ekstrak biji papaya membuat cacing menjadi lumpuh dan mati lebih lambat dibandingkan dengan PSE.

Penelitian lain menemukan bahwa ekstrak biji labu memiliki potensi sebagai obat antelmintik yang efektif dalam mengatasi infeksi cacing Hymenolepis nana. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa penggunaan biji labu dapat menjadi alternatif yang aman dan efektif dalam pengobatan infeksi cacing pada manusia (Anan O. Alhawiti; Fawzia H. Toulah;   Majed H. Wakid; 2018). Penelitian yang dilakukan oleh Noni Zakiah, dkk (2020) menunjukkan bahwa hasil uji in vitro dengan perlakuan 25 mg/ml ekstrak etanol biji labu kuning menyebabkan kematian 3 ekor Ascaridia galli atau 60% pasca inkubasi 36 jam, sedangkan ekstrak etanol biji labu kuning dengan perlakuan 50 mg/ml, 100 mg/ml dan kelompok kontrol positif mengakibatkan kematian 4 ekor Ascaridia galli atau 80% pasca inkubasi 36 jam.

Biji labu mengandung senyawa bioaktif seperti asam lemak, asam amino, mineral, dan senyawa fenolik yang memiliki berbagai manfaat kesehatan.  Senyawa bioaktif dalam biji labu kuning menunjukkan aktivitas yang menjanjikan seperti anthelmintik, antidiabetes, antidepresan, antioksidan, antitumor dan sitoprotektif oleh (Joachim M. Dottoa,c, & , James S. Chacha b; 2020). Biji labu memiliki bioavailabilitas yang tinggi, sehingga nutrisi dan senyawa bioaktifnya dapat dengan mudah diserap oleh tubuh.

Bukti penelitian lain bahwa zat gizi pada biji labu yang berperan dalam menghilangkan cacing pita adalah cucurbitine (Li et al. 2012). Cucurbitine merupakan komponen antiparasit yang terdapat dalam biji labu. Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan biji labu saja untuk pengobatan cacing pita memiliki efek penyembuhan sekitar 65% (Li et al. 2012). Ekstrak  biji labu kuning (Cucurbita pepo) memiliki sifat antelmintik yang efektif terhadap cacing H. bakeri. Ekstrak biji labu kuning menunjukkan aktivitas antelmintik pada penetasan telur, perkembangan larva, dan gerakan cacing dewasa (Grzybek et al. 2016). Selain antelmintik biji labu memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dan dapat mempercepat penyembuhan luka pada tikus (Bardaa et al. 2016).


Biji Labu Kuning Sebagai Pangan Fungsional Potensial

Biji labu menarik perhatian sebagai bahan makanan fungsional potensial karena kandungan nutrisi dan senyawa bioaktifnya yang beragam. Biji labu kuning, dikenal karena kandungan nutrisinya, muncul sebagai kandidat yang menjanjikan untuk difortifikasi, mengandung protein, lemak, serat, vitamin, dan mineral esensial seperti seng. Penelitian yang dilakukan oleh Aminuddin Syam., dkk tentang dampak positif dari biskuit berisi biji labu kuning yang kaya nutrisi sebagai camilan sehat bagi remaja menunjukkan bahwa asupan protein, lemak, dan energi meningkat secara signifikan pada kelompok intervensi tetapi tidak pada kelompok kontrol (Syam, Kurniati, and Zainal 2021). Demikian pula, asupan mikronutrien, seperti Fe dan seng, juga meningkat secara namun tidak terdapat perbedaan status gizi dan kadar zinc antara kelompok intervensi dan kontrol setelah intervensi. Peningkatan asupan tersebut disebabkan adanya penambahan biji labu kuning untuk meningkatkan kandungan gizi biskuit, baik makronutrien maupun mikronutrien (Syam, Kurniati, and Zainal 2021).

Pangan  fungsional dapat memainkan peran penting dalam mengatasi masalah kecacingan. Sebagai contoh, makanan yang kaya akan serat, seperti sayuran hijau dan biji-bijian utuh, dapat membantu menjaga sistem pencernaan yang sehat. Dengan menjaga saluran pencernaan yang baik, kita dapat mengurangi risiko infeksi cacing yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Selain itu, konsumsi makanan yang mengandung nutrisi tertentu, seperti seng dan vitamin A, dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi parasit. Protein pada biji labu memperkuat sistem kekebalan tubuh dan membantu melawan infeksi cacing. Dan mineral memiliki efek anthelmintik atau dapat membantu mengendalikan infeksi cacing (Feitosa et al. 2012).

Nutrisi memiliki pengaruh kompleks terhadap infeksi dan re-infeksi oleh cacing usus. Beberapa studi menunjukkan bahwa suplementasi nutrisi atau status nutrisi yang baik dapat mengurangi risiko infeksi dan re-infeksi oleh cacing usus (Yap et al. 2014). Multi-mikronutrien, yang dikonsumsi dalam bentuk biskuit atau tablet, menurunkan tingkat infeksi ulang A. lumbricoides  dan T. trichiura, namun penurunan tersebut gagal mencapai signifikansi statistik (Nchito et al. 2009; Olsen et al. 2003). Beberapa studi yang menunjukkan efek negatif dari nutrisi terhadap kecacingan (Yap et al. 2014). Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan nutrisi sebagai bagian dari strategi pengendalian kecacingan, terutama dalam kombinasi dengan pengobatan antelmintik.

Salah satu produk hasil penlitian menggunakan tepung biji labu pada kue kering oleh Manpreet Kaur & Sonika Sharma (2017) menunjukkan bahwa Kue kering yang dilengkapi dengan 30% tepung biji labu baik dalam bentuk mentah maupun dipanggang sangat diterima. Kadar air lebih tinggi pada cookies kontrol yaitu 8,77%, kadar protein dan lemak paling maksimal pada cookies yang ditambah tepung biji labu sangrai yaitu 8,29% dan 28,97%, kadar serat dan abu cookies yang ditambah tepung biji labu mentah lebih tinggi yaitu 2,50 dan 2,52 %. Kandungan zat besi, seng dan karotenoid total lebih tinggi pada cookies yang diberi suplemen tepung biji labu kuning mentah yaitu 2,36, 1,28 dan 0,231mg/100gm. Aktivitas antioksidan maksimum juga diamati pada cookies yang ditambah tepung biji labu mentah (58,10%). Nilai peroksida lebih tinggi pada cookies kontrol (3,7 meq/kg). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konsumsi produk suplemen tepung biji labu kuning harus digalakkan dalam pola makan rutin sehingga dapat meningkatkan status gizi individu. Produk bernilai tambah yang menggunakan tepung biji labu mentah atau panggang dapat diberikan kepada anak-anak dan perempuan untuk memberantas malnutrisi. Cookies juga dapat menjadi bagian dari program pemberian makanan tambahan.

Peningkatan konsumsi pangan fungsional, khususnya di masa mendatang, akan menyediakan nutrisi utama yang penting untuk fungsi tubuh normal dan sangat penting. Oleh karena itu, pangan fungsional mempunyai peran penting dalam perlindungan terhadap malnutrisi. Lebih jauh lagi, evolusi pangan fungsional dapat menjadi cara sederhana untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah dengan tingkat malnutrisi tinggi dan ketersediaan pangan yang rendah (Mukhtar H. Ahmed., et.all., 2022).

Beberapa artikel di atas yang telah direviuw berkaitan dengan kecacingan dan biji labu kuning sebagai pangan fungsiinal. Beberapa artikel umumnya membahas tentang kecacingan berfokus pada intervensi pengendalian infeksi STH dengan meningkatkan ketersediaan air bersih, sanitasi, personal hygiene dan pemberian obat cacing pada anak. Artikel yang berkaitan dengan pemanfaatan pangan fungsional pada kecacingangan seperti biji labu kuning yang dibahas secara keseluruhan memberikan informasi mengenai potensi biji labu sebagai bahan makanan fungsional yang dapat digunakan anthelmintic pada cacing. Beberapa penelitian pada hewan coba telah dilakukan memberikan bukti bahwa biji labu memiliki bioavailabilitas yang tinggi kaya serat, protein, lemak, zat besi , seng  dan memiliki aktivitas antioksidan yang kuat serta dapat mempercepat penyembuhan. Namun intervensi  penggunaan  biji labu sebagai  alternatif yang aman dan efektif dalam pengobatan infeksi cacing pada manusia masih sangat minim. Produk dari biji labu kering  dalam bentuk cookies dan biskuit  kandungan zat gizi berupa seng dan Fe masih tetap terjaga. Beberapa peneliti merekomendasikan untuk melakukan studi yang lebih luas dengan melibatkan subjek manusia guna mengevaluasi manfaat tepung biji labu dalam meningkatkan kadar seng dan Fe dalam serum terkhusus pada anak dengan kecacingan.  

 

Daftar Pustaka

Dotto, J. M., & Chacha, J. S. (2020). The potential of pumpkin seeds as a functional food ingredient: A review. Scientific African10, e00575.

Ahmed, M. H., Vasas, D., Hassan, A., & Molnár, J. (2022). The impact of functional food in prevention of malnutrition. PharmaNutrition, 19, 100288.

Akinwande, K. S., Morenikeji, O. A., & Arinola, O. G. (2017). Anthropometric indices and serum micronutrient status of helminth–infected school children from semi-urban communities in Southwestern Nigeria. Nigerian Journal of Physiological Sciences, 32(2), 195-200.

Alhawiti, A. O., Toulah, F. H., & Wakid, M. H. (2019). Anthelmintic potential of Cucurbita pepo Seeds on Hymenolepis nana. Acta Parasitologica, 64, 276-281.

Bardaa, S., Ben Halima, N., Aloui, F., Ben Mansour, R., Jabeur, H., Bouaziz, M., & Sahnoun, Z. (2016). Oil from pumpkin (Cucurbita pepo L.) seeds: evaluation of its functional properties on wound healing in rats. Lipids in health and disease, 15, 1-12.

Campbell, S. J., Savage, G. B., Gray, D. J., Atkinson, J. A. M., Soares Magalhães, R. J., Nery, S. V., ... & Clements, A. C. (2014). Water, sanitation, and hygiene (WASH): a critical component for sustainable soil-transmitted helminth and schistosomiasis control. PLoS neglected tropical diseases, 8(4), e2651.

Ercumen, A., Benjamin-Chung, J., Arnold, B. F., Lin, A., Hubbard, A. E., Stewart, C., ... & Luby, S. P. (2019). Effects of water, sanitation, handwashing and nutritional interventions on soil-transmitted helminth infections in young children: A cluster-randomized controlled trial in rural Bangladesh. PLoS neglected tropical diseases, 13(5), e0007323.

Feitosa, T. F., Vilela, V. L. R., Athayde, A. C. R., Braga, F. R., Dantas, E. S., Vieira, V. D., & de Melo, L. R. B. (2012). Anthelmintic efficacy of pumpkin seed (Cucurbita pepo Linnaeus, 1753) on ostrich gastrointestinal nematodes in a semiarid region of Paraíba State, Brazil. Tropical animal health and production, 45, 123-127.

Gadisa, E., & Jote, K. (2019). Prevalence and factors associated with intestinal parasitic infection among under-five children in and around Haro Dumal Town, Bale Zone, Ethiopia. BMC pediatrics, 19, 1-8.

Geerts, S., & Gryseels, B. (2000). Drug resistance in human helminths: current situation and lessons from livestock. Clinical microbiology reviews, 13(2), 207-222.

Grzybek, M., Kukula-Koch, W., Strachecka, A., Jaworska, A., Phiri, A. M., Paleolog, J., & Tomczuk, K. (2016). Evaluation of anthelmintic activity and composition of pumpkin (Cucurbita pepo L.) seed extracts—in vitro and in vivo studies. International journal of molecular sciences, 17(9), 1456.

Hotez, P. J., Pecoul, B., Rijal, S., Boehme, C., Aksoy, S., Malecela, M., ... & Reeder, J. C. (2016). Eliminating the neglected tropical diseases: translational science and new technologies. PLoS neglected tropical diseases, 10(3), e0003895.

Idris, O. A., Wintola, O. A., & Afolayan, A. J. (2019). Helminthiases; prevalence, transmission, host-parasite interactions, resistance to common synthetic drugs and treatment. Heliyon, 5(1).

Kattula, D., Sarkar, R., Ajjampur, S. S. R., Minz, S., Levecke, B., Muliyil, J., & Kang, G. (2014). Prevalence & risk factors for soil transmitted helminth infection among school children in south India. Indian Journal of Medical Research, 139(1), 76-82.

Kaur, M., & Sharma, S. (2017). Formulation and nutritional evaluation of cookies supplemented with pumpkin seed (Curcubita Moschata) flour. Chem Sic Rev Let, 6, 2236-2241.

Li, T., Ito, A., Chen, X., Long, C., Okamoto, M., Raoul, F., ... & Craig, P. S. (2012). Usefulness of pumpkin seeds combined with areca nut extract in community-based treatment of human taeniasis in northwest Sichuan Province, China. Acta tropica, 124(2), 152-157.

Manke, M. B., Dhawale, S. C., & Jamkhande, P. G. (2015). Helminthiasis and medicinal plants: a review. Asian Pacific Journal of Tropical Disease, 5(3), 175-180.

Menzies, S. K., Rodriguez, A., Chico, M., Sandoval, C., Broncano, N., Guadalupe, I., & Cooper, P. J. (2014). Risk factors for soil-transmitted helminth infections during the first 3 years of life in the tropics; findings from a birth cohort. PLoS neglected tropical diseases, 8(2), e2718.

Nchito, M., Geissler, P. W., Mubila, L., Friis, H., & Olsen, A. (2009). The effect of iron and multi-micronutrient supplementation on Ascaris lumbricoides reinfection among Zambian schoolchildren. Transactions of the Royal Society of Tropical Medicine and Hygiene, 103(3), 229-236.

Novianty, S., Pasaribu, H. S., & Pasaribu, A. P. (2018). Faktor risiko kejadian kecacingan pada anak usia pra sekolah. Journal Of The Indonesian Medical Association, 68(2), 86-92.

Nuryanto, N., & Candra, A. (2019). Hubungan kejadian kecacingan terhadap anemia dan kemampuan kognitif pada anak sekolah dasar di Kelurahan Bandarharjo, Semarang. Journal Of Nutrition College, 8(2), 101-106.

Packi, K., Rudek, A., Matysiak, J., Klimczak, S., Matuszewska, E., Rzetecka, N., & Matysiak, J. (2023). Food allergies and parasites in children. Foods, 12(13), 2465.

Pham, T. T., Tran, T. T. T., Ton, N. M. N., & Le, V. V. M. (2017). Effects of pH and salt concentration on functional properties of pumpkin seed protein fractions. Journal of food processing and preservation, 41(4), e13073.

SalaM, N., & Fareed, M. (2019). Soil Transmitted Helminth Infections and its Association with Haemoglobin Levels in India: A Meta-analysis. Journal of Clinical & Diagnostic Research, 13(6).

Surja, S. S., Ali, S., Ajisuksmo, C., Pramono, H., & Iustitiani, N. S. (2021). Hookworm infection still prevalent in the less developed urban area in jakarta, Indonesia. Clinical Epidemiology and Global Health, 9, 137-140.

Syam, A., Burhan, F. K., Hadju, V., Citrakesumasari, C., & Akhmar, A. M. (2020). The effect of biscuits made from pumpkin seeds flour on serum zinc levels and weight in malnutrition wistar rats. Open Access Macedonian Journal of Medical Sciences, 8(A), 428-433.

Syam, A., Kurniati, Y., & Zainal, Z. (2021). The Impact Of Biscuits Fortified Using Pumpkin Seeds On Nutritional Status Of Adolescents: A Randomized Single-Blind Controlled Trial. Turkish Journal of Physiotherapy and Rehabilitation; 32 (3).

Yanola, J., Nachaiwieng, W., Duangmano, S., Prasannarong, M., Somboon, P., & Pornprasert, S. (2018). Current prevalence of intestinal parasitic infections and their impact on hematological and nutritional status among Karen hill tribe children in Omkoi District, Chiang Mai Province, Thailand. Acta tropica, 180, 1-6.

Yap, P., Utzinger, J., Hattendorf, J., & Steinmann, P. (2014). Influence of nutrition on infection and re-infection with soil-transmitted helminths: a systematic review. Parasites & vectors, 7, 1-14.

Zakiah, N., Aulianshah, V., Hidayatullah, T. M., & Hanum, F. (2020). Efek ekstrak etanol biji labu kuning (Cucurbita moschata duchesne) sebagai antelmintik pada cacing gelang (Ascaridia galli). Sel Jurnal Penelitian Kesehatan, 7(1), 11-18.