Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
Gol Dicetak Tim, Piala Diangkat Pimpinan

Gol Dicetak Tim, Piala Diangkat Pimpinan

*Gol Dicetak Tim, Piala Diangkat Pimpinan*

Penulis: Syahrul Basri

Piala Dunia sepakbola beberapa Minggu lalu telah berakhir, namun auranya masih membawa saya hanyut ke dalamnya. Hingga akhirnya semangat tersebut membawa saya mengantar tim UIN FC yang diisi oleh mahasiswa, alumni, staf, dosen dll. untuk mengikuti turnamen di kota Makassar, WALIKOTA CUP namanya. Anak bola menyebutnya Tarkam.

Tulisan ini terinspirasi dari turnamen ini, UIN FC harus tersisih di babak 16 besar namun pelajarannya sangat besar.

Saya punya usul yang mungkin terdengar aneh.
Sebelum seseorang diangkat menjadi pimpinan di kampus, jangan dulu dikirim mengikuti pelatihan kepemimpinan. Suruh dulu dia menghabiskan satu sore di pinggir lapangan tarkam.
Tidak usah menjadi pemain.
Cukup duduk bersama penonton.
Dari pinggir lapangan ini, akademisi yang brilian kemungkinan akan mengkhatamkan dua bab tentang perilaku manusia, langsung selesai.

Di tarkam, pertandingan sepak bola itu justru bisa jadi hanya second show. Acara utamanya justru manusia.
Ada yang baru datang sudah mengatur formasi, padahal sepatunya saja belum diikat. Ada yang teriak, "Mainki sederhana!" tetapi kalau diberi bola, justru menggiring bola sampai lupa pulang. Ada yang setiap lima menit menyalahkan wasit. Yang paling lucu, ada yang tidak berkeringat sama sekali, tetapi pulang dengan suara paling serak karena dari awal sampai akhir hanya memberi instruksi dari luar lapangan.
Aneh sekali.

Semakin saya perhatikan, semakin saya merasa suasana itu tidak asing.
Bukankah kadang-kadang kampus juga begitu?
Yang paling sibuk bekerja sering tidak terdengar suaranya. Sebaliknya, yang paling sedikit pekerjaannya justru paling rajin mengevaluasi kerja orang lain. Di setiap rapat selalu ada "pelatih tim nasional". Semua keputusan sudah disiapkan. Semua solusi sudah tersedia. Tinggal satu masalah: giliran diminta menjadi penanggung jawab, mendadak sinyalnya hilang.

Di tarkam juga ada satu tradisi yang menarik.
Taruhan alias baku sewa (dalam pergaulan Makassar)
Tenang... bukan yang besar-besar. Biasanya cuma kopi, pisang goreng, atau sebungkus rokok. Tetapi yang dipertaruhkan sebenarnya bukan itu.
Yang dipertaruhkan adalah gengsi.
Makanya, setelah tim jagoannya kalah, pembahasan pertandingan bisa berlangsung tiga kali lebih lama daripada pertandingannya sendiri. Wasit dianggap kurang adil. Lapangan terlalu licin. Matahari terlalu silau. Rumput terlalu tinggi. Angin terlalu kencang.
Pokoknya, semua salah.
Kecuali prediksi sendiri.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan di kampus juga ada "taruhan" seperti itu. Bukan uang, melainkan ego.
Ada yang bertaruh bahwa program studinya pasti paling berhasil.
Ada yang bertaruh bahwa fakultasnya pasti paling diminati.
Ada yang bertaruh bahwa kebijakannya pasti paling benar.
Kalau program berhasil, semua ingin berdiri paling depan saat foto bersama. Kalau gagal, mendadak tidak ada yang merasa ikut mengambil keputusan.
Padahal, baik di lapangan maupun di perguruan tinggi, keberhasilan selalu merupakan hasil kerja tim. Demikian pula kegagalan.
Begitu hasilnya tidak sesuai harapan, yang dicari bukan solusi, melainkan siapa yang bisa dijadikan bek tengah untuk menerima semua kesalahan.

Kasihan memang bek.

Di sepak bola salah sedikit viral.
Yang lucu, baik di tarkam maupun di kampus, penonton selalu merasa paling tahu.
Belum tentu pernah mengelola kegiatan.
Belum tentu pernah memimpin tim.
Tetapi komentarnya sudah seperti konsultan internasional.
Kalau pemain salah operan, diteriaki.
Kalau mahasiswa salah langkah, dimarahi.
Kalau pimpinan salah kebijakan, dibuatkan utas panjang.
Kalau dirinya sendiri diminta maju, jawabannya pendek sekali.
"Saya bantu dari belakang saja."
Padahal "belakang" yang dimaksud ternyata benar-benar di belakang. Sampai kegiatan selesai pun tidak kelihatan.

Mungkin memang begitu sifat manusia.
Kita lebih senang menjadi komentator daripada pemain, lebih nyaman menjadi evaluator daripada pelaksana, lebih cepat menunjuk kesalahan daripada mengangkat lengan baju.

Karena itu saya semakin yakin, pengembangan kemahasiswaan tidak cukup hanya mengajarkan cara berbicara di depan forum. Ia juga harus mengajarkan cara menjadi satu tim, cara menerima kritik, cara mengakui kesalahan, dan yang paling sulit adalah cara bertepuk tangan ketika orang lain mencetak gol.
Sebab kampus bukan arena adu ego.
Dan tarkam, anehnya, sering kali mengajarkan itu dengan cara yang jauh lebih jujur daripada ruang rapat berpendingin udara.

Kalau masih tidak percaya, cobalah sekali-kali menonton tarkam.
Jangan duduk di tribun VIP.
Duduklah bersama bapak-bapak yang sudah tiga gelas kopi, empat kali ganti prediksi, dan lima kali berkata, "Kalau saya yang main, tidak begitu caranya."
Biasanya mereka adalah pelatih terbaik yang tidak pernah diminta melatih.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan berkaca saat Donald Trump selebrasi mengangkat Piala Dunia antar club lebih lama dari pemain. Kadang dalam sepak bola, ada sosok yang selalu hadir saat penyerahan piala dan berfoto paling depan, tetapi entah ke mana ketika jadwal latihan, persiapan, dan saat tim sedang berjuang mengejar ketertinggalan.

Editor : Nur Ilmi Mardatillah